Beranda > Friendship, Genderswitch, Oneshoot, PG-15, Romance > Actually, All Is You

Actually, All Is You


Actually, All Is You

Written by :: Leekimmie

Cast ::

Lee Sungmin (Super Junior)

Cho Kyuhyun (Super Junior)

Seohyun (SNSD)

Kim Ryeowook (Super Junior)

Kim Heechul (Super Junior)

Genre :: Romance/Friendship/Genderswitch/Oneshoot

Rating :: PG-15

 

Summary::

Hatinya terasa sakit. Sangat sakit. Ketika seseorang yang telah dianggapnya teman ternyata malah menyukai seorang pria yang juga disukainya. Sungmin semakin sedih saat Seohyun memintanya untuk membantunya mendapatkan Kyuhyun.

 

 

oOoOo

 

Sebuah benda elektronik berbentuk persegi panjang seukuran tangan bergetar dan berdering keras. Berseru meminta untuk diangkat. Seorang gadis berperawakan kurus, tinggi baru keluar dari kamar mandi dan langsung menghampiri benda itu. Tanpa melirik tulisan yang muncul dari layar ponsel itu, ia segera menekan tombol ‘jawab’ sebelum menyapa seseorang dari seberang sana, “Yoboseo,”

“Mr. Cho?…” alisnya terangkat, “Oh, ne… Arasseo… Nde?… Annyeong~” wajahnya berubah muram, ia baru saja menerima telepon dari Cho Kyuhyun, keponakan atasannya. Kali ini Lee Sungmin, gadis mungil berambut hitam lurus sepinggang itu harus segera pergi menemui pria itu.

Selalu saja begini. Setiap hari libur tiba, di sanalah hari lemburnya berlabuh. Park Jeongsoo selalu meminta waktu liburnya untuk kepentingan yang seharusnya bukan menjadi tanggungan Sungmin. Tapi ia tidak berani membantah, hanya menggerutu dalam hati. Memaki dan mengumpat tentang Park Jeongsoo yang sangat tidak sungkan selalu mengganggu hari liburnya. Tentu saja dengan bekerja pada Cho Kyuhyun membuat Park Jeongsoo secara tidak langsung juga membuat Sungmin menderita.

Sungmin menghela napas panjang. Ia melempar ponselnya ke ranjang. Sekarang, selalu seperti ini. Hatinya akan sakit bila bertemu Kyuhyun. Tapi apa boleh buat? Lalu menghampiri lemari pakaian besar yang berdiri kokoh di kamarnya. Ia harus segera mengganti handuk kimononya dengan pakaian yang rapi untuk kemudian menemui Cho Kyuhyun di kantor. Menemui Cho Kyuhyun? Itu hal yang menyebalkan baginya akhir-akhir ini. Walaupun ia sudah berteman dengan pria itu, tapi ia merasa berat ketika ingin bertemu dengan pria cuek nan egois itu.

“Sungmin-ah, sarapannya sudah siap. Cepat turun, kami menunggumu!” seru seseorang dari luar kamarnya. Ia terperanjat kaget, “Oh, ne. Tunggu sebentar.” Timpalnya.

Lee Sungmin segera membereskan dandanannya lalu keluar dari kamarnya yang terletak di lantai dua sebuah flat yang lumayan besar. Ia menuruni tangga setengah berlari dan menghampiri dua gadis lain yang sedang duduk menunggunya di meja makan, berusaha mengubah ekspresinya agar jauh lebih baik. “Pagi…” sapanya pada dua gadis seumurannya itu dengan gembira. “Wah, kelihatannya enak.” Serunya semangat saat menemukan hamparan makanan tersaji di depannya. Ia segera menarik kursi dan duduk di sana.

“Tentu. Hari ini aku sengaja masak banyak karena kalian jarang makan di rumah akhir-akhir ini.” Ujar riang Kim Ryeowook. Gadis berusia 23 tahun yang tampak polos itu menyodorkan potongan daging panggang pada kedua teman se-flat-nya, Lee Sungmin dan Kim Heechul.

“Mianhae, Ryeowook-ah. Akhir-akhir ini jadwalku cukup padat. Banyak tawaran yang tidak bisa aku tolak begitu saja.” Ujar Kim Heechul sambil melahap daging panggang yang disodorkan Ryeowook tadi.

“Aku juga. Mr. Park dan Cho Kyuhyun selalu saja mencekik waktu luangku. Aku merasa telah diperbudak oleh mereka.” Sahut Sungmin lesu.

Gwenchana. Yang penting kalian makan yang banyak. Aku tidak mau kalian bertambah kurus karena lupa waktu makan, oke?” kali ini Ryeowook yang bersuara.

 

oOoOo

 

Lee Sungmin melangkah cepat menuju sebuah gedung besar bertingkat. Ia berharap kali ini Kyuhyun tidak mengambil waktu luangnya terlalu banyak. Kenapa? Karena semakin lama bersama Kyuhyun, suasana hatinya akan semakin memburuk. Ia masuk ke dalam lift sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan tertimpa angin. Sebelum lift tertutup, seorang pria muda masuk ke dalam lift itu. Hanya ada mereka berdua. Lee Sungmin dan pria jangkung itu.

“Lee Sungmin-ssi, kau terlambat sepuluh menit.” Ujar Cho Kyuhyun dingin.

Sungmin terkejut, sebelumnya ia tidak menyadari bahwa seseorang yang ada di sampingnya adalah Kyuhyun. Ia melirik malas pada pria berjas hitam formal itu.

Jeosonghamnida. Bukannya kau berjanji memberiku waktu luang hari ini? Itu sebabnya aku memutuskan bersantai hari ini.” ketus Sungmin lalu menghela napas panjang. “Tentu saja sampai kau meneleponku,” lanjutnya.

“Kau tenang saja, hari ini tidak akan kerja sampai malam. Hanya beberapa jam lalu kau boleh pulang.” Bantah Kyuhyun cepat, tanpa menoleh pada gadis itu barang melirik.

Tetap saja, yang namanya hari libur harusnya aku tidak bekerja sedetik pun. Dasar atasan menyebalkan! Gerutu Sungmin dalam hati.

“Jangan berpikir macam-macam!” ujar Kyuhyun tiba-tiba, seakan bisa membaca pikiran gadis itu. Sungmin terperanjat, ia lupa seorang Cho Kyuhyun bisa membaca pikiran orang. Terlebih pikirannya. Sungmin dibuat salah tingkah.

Sebuah dentingan halus menyelamatkan gadis itu. Dia tidak perlu berlama-lama di dalam lift berdua dengan pria menyebalkan seperti Kyuhyun karena pintu lift terbuka dan ia akan segera keluar dari sana. Itu suatu kebetulan yang bagus. Gadis itu segera melangkah keluar dari lift dan menjauh dari Kyuhyun sampai pada akhirnya rencananya sedikit gagal karena hari ini ia bekerja pada Kyuhyun, bukan pada Jeongsoo. Ditambah lagi sebelah tangan Kyuhyun mencekal tangannya. Sungmin bergidik saat Kyuhyun menariknya mendekat dan mereka berdua berdiri dengan jarak minimal. Sungmin bahkan bisa merasakan napas hangat Kyuhyun di telinganya. “Jangan lari!” bisik pria itu.

“Mr. Cho?” kata Sungmin terbata-bata. Tanpa diduga, Kyuhyun memencet tombol angka 9 pada lift itu. Padahal mereka sedang berada di lantai 50 gedung itu dan Kyuhyun malah membuat mereka terkurung lebih lama di lift karenanya. Jantung Sungmin berdebar tak karuan melihat tindakan Kyuhyun. Apa yang akan pria itu lakukan padanya?

Kyuhyun tak kunjung menjauh dari Sungmin. Pria itu malah menahan bahu Sungmin dengan sebelah tangannya, “Wae?” tanyanya setengah berbisik di telinga Sungmin. Dibarengi senyum evil khas-nya.

“Jangan macam-macam!” bentak Sungmin sambil berbalik melepaskan diri dari Kyuhyun dan menjauh dari pria itu. “Ingat, ada CCTV di sini!” ancamnya pada pria itu sambil telunjuknya menunjuk pada kamera kecil yang ada di pojok ruangan itu lalu pada Kyuhyun.

“CCTV sudah kumatikan.” Ujar Kyuhyun tenang. Mata Sungmin melebar. Kyuhyun memasukkan tangannya ke saku celananya lalu berjalan mendekati Sungmin. “Wae? Kau takut?” Tanya Kyuhyun sambil mengangkat sebelah alisnya. Dada Sungmin sudah bergemuruh. Dia tidak peduli apa yang dikatakan Kyuhyun sama sekali. Yang ia pikirkan hanyalah cara melepaskan diri dari pria itu sekarang.

Kyuhyun menghela napas, “Tenang, kau bukan tipeku. Aku hanya ingin mengembalikan ini.” Ucapnya sambil mengacung-acungkan kotak kecil yang dirogoh dari saku celananya tadi. Sungmin terbelalak, ia segera meraih kotak itu. “Punyaku.” Seru Sungmin merebut kotak itu dari tangan Kyuhyun.

“Kau meninggalkannya di apartemenku.”

Sungmin menatap Kyuhyun, mereka saling bertatapan. Sampai ia ingat kejadian beberapa hari yang lalu. Ia kehilangan kotak kecil berwarna pink yang berharga baginya.

 

Flashback…

Kyuhyun masih berbaring di tempat tidur ketika ponselnya berdering. Ia mengerang pelan, tapi langsung terbatuk-batuk. Ia memaksa dirinya bangkit duduk dengan susah payah dan meraih ponsel yang tergeletak di meja di samping tempat tidur.

Yoboseo?” gumamnya serak, dan kembali terbatuk-batuk.

“Ada apa denganmu?”

Walaupun kepalanya terasa berat dan seluruh tubuhnya lemas, Kyuhyun masih bisa tersenyum mendengar suara Sungmin yang bernada cemas bercampur curiga.

Molla,” gumam Kyuhyun pelan. “Badanku panas dan lemas, tenggorokanku sakit, dan kepalaku serasa seperti batu. Sudah begini sejak aku bangun tadi pagi.”

“Kemarin kau baik-baik saja,” kata Sungmin lagi. Ia terdiam sejenak, lalu bertanya ragu, “Kau sudah ke dokter? Minum obat?” tanya Sungmin.

Kyuhyun menggeleng walaupun ia tahu Sungmin tidak bisa melihatnya. “Nanti saja. Terlalu lemas untuk bangun. Aku mau berbaring sebentar.”

Jeda sejenak di ujung sana, lalu Sungmin bertanya, “Kau… kau mau aku pergi ke sana?”

“Kau akan datang kalau kuminta?” Kyuhyun balas bertanya.

“Yah… tentu saja. Kalau kau mau.”

Kyuhyun tersenyum tipis. Sungmin bahkan tidak berhasil menyingkirkan keraguan dari nada suaranya. Selama Kyuhyun mengenal Sungmin, ia sudah berhasil mengetahui beberapa hal tentang diri gadis itu. Lee Sungmin selalu bersikap waswas di depan pria. Hal ini membuat Kyuhyun lega karena itu berarti Sungmin tidak bersikap gugup dan resah hanya di depan Kyuhyun. Lee Sungmin yang tidak punya teman pria selain dirinya, dan Lee Sungmin yang penakut.

“Terima kasih, tapi itu tidak perlu,” kata Kyuhyun pada akhirnya. Ia tahu Sungmin akan datang kalau ia memintanya, tetapi ia tidak ingin memaksa gadis itu. Ia sadar bahwa gadis itu hanya berhubungan dengannya dalam hal pekerjaan. Ia ingin Sungmin membuka diri atas pilihannya sendiri. “Aku yakin ada obat di sekitar sini. Aku hanya akan tidur sebentar. Setelah itu aku berjanji aku akan minum obat. Dan aku yakin setelah itu aku akan sembuh. Tenang saja.”

“Kau akan meneleponku kalau kau membutuhkan sesuatu?” tanya Sungmin. Suaranya masih terdengar cemas.

“Tentu saja.”

“Kalau begitu aku tidak akan mengganggumu lagi. Istirahatlah. Jangan lupa telepon aku kalau ada apa-apa.”

“Kau orang pertama yang akan kuhubungi.”

Setelah menutup telepon, Kyuhyun terbatuk-batuk sebentar sambil kembali meringkuk di balik selimut. Ini benar-benar menjengkelkan. Ia tidak suka merasa sakit dan merasa tak berdaya seperti ini. Ia benar-benar harus mencari obat. Dan kalau ia masih belum membaik setelah minum obat, ia sudah pasti harus ke dokter. Tiba-tiba ponselnya berbunyi lagi. Kyuhyun mengerang dan berpikir seharusnya ia mematikan ponselnya saja seharian ini supaya bisa beristirahat dengan tenang. Ia meraba-raba ranjang mencari ponsel yang tadi dilepaskannya begitu saja. Mengangkat ponsel ke telinga saja membutuhkan segenap kekuatannya. “Ne?” gumamnya pendek. Dua detik kemudian matanya terbuka. “Oh, Seohyun-ssi?

 

oOoOo

 

Siang itu Sungmin masih merasa khawatir. Ia ingin menelepon Kyuhyun tetapi takut mengganggu istirahat pria itu. Selama beberapa menit terakhir, ia duduk di meja tulisnya yang menghadap jendela di kamar tidurnya. Ia tidak punya jadwal kerja hari ini. Ia memang sengaja mengatur agar hari ini ia bisa berlibur. Sudah lama ia ingin berkeliling kota untuk melihat-lihat dan berbelanja, namun tentu saja ia tidak bisa menikmati acara belanjanya kalau terus memikirkan Kyuhyun.

Ia sedang memutuskan apa yang sebaiknya dilakukannya keika ponselnya tiba-tiba berbunyi. Ia melirik layar ponsel yang tergeletak di meja dan cepat-cepat menjawabnya. “Kyuhyun-ssi?

“Kau bisa datang ke sini?” Suara Kyuhyun terdengar lirih dan lemah. Napasnya juga terdengar berat, seolah-olah butuh usaha besar hanya untuk berbicara.

Jebal… Tolong datang ke sini.” Kini Sungmin sama sekali tidak ragu. Keraguan apa pun yang tadi pagi masih ada langsung digantikan oleh rasa panik dan cemas. Ia langsung melompat berdiri dari kursi dan berkata, “Aku akan segera ke sana.”

Tidak terlalu lama kemudian, Sungmin sudah berdiri di depan pintu apartemen Kyuhyun. Ia membunyikan bel dan menunggu dengan tidak sabar. Tetapi matanya melebar kaget ketika pintu terbuka dan ia melihat siapa yang berdiri di sana.

“Seohyun-ssi?

Seo Joo Hyun yang membuka pintu dari dalam juga terlihat heran. “Oh, Sungmin-ssi?” Sesaat Sungmin tidak bisa berkata-kata. Kepanikan dan kecemasannya selama perjalanan ke sini memudar sedikit dan digantikan sesuatu yang tidak bisa diartikannya. Kenapa Seohyun ada di dalam apartemen Kyuhyun? Sedang apa dia di sana? Ada apa ini? Semua pertanyaan itu simpang siur dalam benak Sungmin. Namun satu hal yang disadarinya. Ia tidak suka melihat Seohyun di sana, di apartemen Kyuhyun.

Lalu mata Sungmin beralih ke arah sosok Kyuhyun muncul di belakang Seohyun. “Kau sudah datang,” kata Kyuhyun. Suaranya terdengar lega. Penampilan Kyuhyun benar-benar kacau. Wajahnya pucat pasi, bibirnya kering, rambutnya acak-acakan. Kaus hitam lengan panjang dan celana panjang putihnya terlihat kusut. Ia terlihat lemah dan sakit. Banyak hal yang berkelebat dalam benak Sungmin, namun begitu melihat Kyuhyun, hanya satu hal yang terpikirkan olehnya. “Kenapa kau tidak berbaring dan beristirahat?” tanyanya dengan alis berkerut.

Kyuhyun mengayunkan tangan dengan lemah. “Masuklah dulu dan setelah itu kau boleh mengomeliku.”

Sungmin melangkah masuk dan menoleh ke arah Seohyun. “Seohyun-ssi, kok kau ada di sini?” tanyanya sambil berusaha menjaga suaranya terdengar ringan.

Seohyun tersenyum. “Tadi aku menelepon Kyuhyun untuk mengajaknya jalan-jalan dan dia bilang dia sedang sakit. Jadi aku langsung datang untuk menawarkan bantuan.”

“Oh, begitu,” gumam Sungmin, tidak tahu lagi harus berpikir apa. Seharusnya ia melakukan apa yang dilakukan Seohyun. Seharusnya ia juga langsung datang ketika mendengar Kyuhyun sedang sakit. Bagaimanapun juga, Kyuhyun adalah temannya –walaupun ia juga atasannya- dan seharusnya ia tidak ragu-ragu membantu teman yang sedang sakit. Ia menoleh ke arah Kyuhyun dan bergumam, “Maafkan aku karena baru datang.”

Kyuhyun berdiri bersandar di dinding. Tangannya mencengkeram pinggiran meja kecil di samping pintu. Ia terlihat sangat lemah, tapi ia masih bisa tersenyum kepada Sungmin.

“Sebaiknya kau duduk,” kata Sungmin kepada Kyuhyun. Kyuhyun menurut tanpa membantah. Ia berjalan masuk ke ruang duduk, diikuti Sungmin dan Seohyun, lalu mengempaskan diri ke salah satu sofa. Jelas sekali ia lega karena tidak perlu berdiri lebih lama lagi. “Seohyun-ssi,” gumamnya sambil mengayunkan tangan ke arah Seohyun, “sudah sangat baik karena sudah membantuku sejak pagi tadi walaupun aku tahu dia pasti sangat sibuk.”

Sungmin menoleh ke arah Seohyun dan temannya tersenyum lebar. “Aku tidak keberatan membantu. Dan kalau aku tidak masuk kantor sehari, tidak akan terjadi bencana,” sahut Seohyun, lalu menatap Kyuhyun. “Lagi pula, aku tidak mungkin meninggalkanmu sendirian di sini. Bagaimana kalau kau membutuhkan sesuatu?”

Kyuhyun mengangguk. “Mungkin kau benar. Tapi karena sekarang Sungmin sudah ada di sini, aku yakin dia bisa menemaniku dan memastikan aku tidak jatuh pingsan atau semacamnya. Lagi pula hari ini dia tidak punya jadwal kerja, jadi dia pasti tidak keberatan.” Ia mendongak menatap Sungmin yang berdiri di sampingnya. “Kau tidak keberatan, bukan?”

Sungmin mengalihkan tatapannya dari Seohyun dan menunduk menatap Kyuhyun. “Tentu saja tidak.” Seohyun menatap mereka berdua bergantian, lalu mengangkat bahu. “Baiklah kalau begitu,” katanya ringan. Lalu ia menoleh ke arah Sungmin dan menambahkan, “Aku senang kau bisa datang dan menjaga Kyuhyun. Gomawo.

Sungmin mengerjap. Apakah hanya perasaannya atau apakah Seohyun benar-benar berbicara dengan nada seolah-olah Kyuhyun adalah tanggung jawabnya dan Sungmin hanyalah seseorang yang diminta datang untuk membantu? “Tentu saja,” gumam Sungmin singkat.

“Kau tahu kau bisa meneleponku kapan saja kau butuh sesuatu,” kata Seohyun sementara ia mengumpulkan barang-barangnya.

Gomawo, Seohyun-ssi. Kau benar-benar baik,” kata Kyuhyun sambil tersenyum lemah.

Setelah Seohyun pergi dan Sungmin menutup pintu, Sungmin berdiri sejenak di sana, cemberut ke arah pintu. Lalu ia berbalik dan berjalan kembali ke ruang duduk. “Aku mau berbaring sebentar,” gumam Kyuhyun lelah. “Kau boleh… entahlah… yah, anggap saja rumah sendiri.”

Sungmin ragu sejenak, menatap Kyuhyun yang mencoba berdiri dengan agak terhuyung. Akhirnya ia mengambil keputusan. Ia menghampiri Kyuhyun yang berjalan terseok-seok ke kamar sambil berpegangan pada dinding. “Biar kubantu,” katanya sambil memegang lengan Kyuhyun.

Kyuhyun berhenti melangkah dan menunduk menatap Sungmin, lalu matanya beralih ke tangan Sungmin yang memegang lengannya. Sungmin bisa melihat kebingungan di mata Kyuhyun yang agak merah.

Sungmin menatap mata Kyuhyun lurus-lurus dan berkata tegas, “Kau bisa jatuh kalau tidak dibantu.”

Kyuhyun mengerjap, lalu mengangguk lemah. “Ya… ya, kurasa kau benar.”

Sungmin membantunya masuk ke dalam kamar dan menyelimutinya. Karena Kyuhyun tidak berselera makan, Sungmin harus memaksanya makan biskuit sedikit sebelum minum obat. “Kau terlihat kacau,” kata Sungmin ketika Kyuhyun sudah berbaring kembali di temapt tidur setelah minum obat.

“Aku memang merasa kacau,” gumam Kyuhyun. “Aku hanya butuh tidur sebentar. Aku akan merasa lebih baik setelah bangun nanti.”

Arasseo,” kata Sungmin sambil mengumpulkan botol obat dan gelas-gelas kosong di meja di samping tempat tidur. “Tidur saja.”

“Ngomong-ngomong, kenapa kau meneleponku tadi pagi?” tanya Kyuhyun tiba-tiba.

“Tadi pagi?” gumam Sungmin sambil mengingat-ingat. “Ah, itu… Aku ingin… Bukan apa-apa, lupakan saja.” Aku hanya ingin tau kapan aku berhenti bekerja denganmu. Tapi ia tidak tega mengatakannya saat ini.

“Baiklah kalau begitu,” gumam Kyuhyun dan memejamkan mata. Ketika sepertinya Kyuhyun tidak akan berbicara lebih banyak lagi, Sungmin berputar dan berjalan dengan langkah pelan ke pintu.

“Aku tidak menyuruhnya datang ke sini,” gumam Kyuhyun tiba-tiba. Sungmin berhenti melangkah dan berbalik kembali. “Ne?

Kyuhyun tidak bergerak di tempat tidurnya,  juga tidak membuka mata. “Seohyun-ssi,” katanya. “Aku tidak menyuruhnya datang ke sini. Dia datang sendiri setelah mendengar aku sakit.” Sungmin mengerjap. “Oh.”

“Dan aku tidak bisa tidur kalau dia ada di sini,” lanjut Kyuhyun dengan suara pelan. “Karena itu aku memintamu datang.” Sungmin terdiam sejenak, lalu akhirnya tersenyum tipis dan bergumam, “Aku tahu.”

Sungmin melangkah keluar dari kamar Kyuhyun, tanpa sepengetahuannya Kyuhyun membuka mata dan mengamati langkahnya. Kyuhyun tersenyum tipis saat merasakan kepedulian Sungmin padanya, walaupun gadis itu pernah –bahkan sering- mengatakan bahwa dia pria terjahat –termasuk menyebalkan, cuek, egois- di dunia ini. Pria itu mengarahkan tangannya tepat di dada kirinya, menahan degup jantungnya yang berpacu karena Sungmin.

Flashback, End

 

“Awalnya aku ingin memberikan itu kemarin, tapi kurasa kau menjauhiku akhir-akhir ini.” Ucap Kyuhyun lembut.

Khamsahabnida” potong Sungmin.

“Sungmin-ssi, kenapa akhir-akhir ini kau seperti menghindariku?” Kyuhyun bertanya, dan Sungmin terkejut. Benarkah? Benarkah selama ini ia menjauhi Kyuhyun. Sungmin hanya diam. “Kau bilang, kau akan menganggapku teman, bukan atasan. Dan kau akan bekerja denganku sebagai teman.” Lanjut Kyuhyun sedih. Apa karena Seohyun ada di apartemen Kyuhyun waktu itu, atau karena Seohyun adalah temannya dan Seohyun mengaku suka pada Kyuhyun. Sungmin tidak tahu harus menjawab apa.

 

oOoOo

 

“Sungmin-ah, kenapa kau murung lagi?” tanya Ryeowook yang sekarang sudah menempati tempat duduk di sebelah Sungmin. Sungmin menoleh, lalu menunduk.

Molla, rasanya dadaku sesak, emosiku naik.”

Wae? Tentang Kyuhyun?” sebuah pertanyaan dilontarkan oleh Heechul yang tiba-tiba juga ada di sana, di samping Sungmin. Dada Sungmin seperti tertohok. Benarkah Kyuhyun yang membuatnya begini? Tapi akhirnya Sungmin mengangguk.

“Ceritakan pada kami,” ucap Ryeowook.

Sungmin menghela napas berat, “Aku seperti seseorang yang tidak rela. Seohyun mengatakan padaku, dia menyukai Kyuhyun. Dan dia memintaku membantunya. Setelah kejadian di apartemen Kyuhyun beberapa hari yang lalu, aku semakin resah. Tapi kenapa bisa begitu?”

Sungmin menunduk, Heechul dan Ryeowook saling bertatapan. “Itu artinya kau juga menyukai Kyuhyun.” Cetus dua gadis itu bersamaan. Sungmin terhenyak, bagaimana mungkin? Tanyanya dalam hati.

“Annyeong~” seorang gadis berlari ke arah mereka bertiga. Seohyun. Dia ikut duduk-duduk di balkon flat itu bersama Ryeowook, Sungmin juga Heechul. Ketiganya tersenyum menyambut Seohyun.

“Sungmin-ssi, kau tau di mana Kyuhyun sekarang? Aku mencoba menghubunginya tapi ponselnya tidak aktif.” Sela Seohyun. Sungmin mengerjap-ngerjap, dia sendiri juga tidak tahu. Biasanya Kyuhyun akan memberitahu Sungmin jika ia sedang pergi jauh, seperti keluar kota atau keluar negeri. Dan Sungmin menjadi orang pertama yang akan ia hubungi. Tapi kenapa sekarang tidak?

Sungmin menggeleng lemah, “Aku juga tidak tau.”

Seohyun menghela napas, “Hahh”

“Sungmin-ssi, bisakah kita bicara sebentar?” ucap Seohyun. Sungmin mengangguk, lalu mengisyaratkan pada Ryeowook dan Heechul untuk meninggalkan mereka. Suasana hening, hanya ada Seohyun dan Sungmin di sana.

“Ngomong-ngomong, sudah berapa lama kau mengenalnya?” tanya Seohyun memecah keheningan. Sungmin menoleh. “Hm?”

“Cho Kyuhyun,” kata Seohyun. Ia melirik Sungmin sekilas, lalu kembali menatap sepi jalanan di depannya. “Sudah berapa lama kau mengenal Kyuhyun?”

“Tidak terlalu lama.”

Seohyun tersenyum lebar. “Dia sangat tampan, bukan?” Sungmin memaksa diri balas tersenyum. “Mm.”

“Dan sangat sopan.”

“Mm.” Sungmin mengikuti arah pandangan Seohyun. Dan sangat baik, pikirnya. Sangat menyenangkan, sangat…            

“Aku menyukainya.”

Kepala Sungmin berputar kembali menatap Seohyun. “Mwo?

Seohyun tertawa senang. “Aku menyukainya, Sungmin-ssi. Sangat menyukainya,” katanya tegas. Tiba-tiba saja Sungmin merasa seolah-olah tekanan udara di balkon ini berkurang dengan cepat. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya dengan pelan. Berat. Udara terasa berat. Ada apa ini?

“Aku mengatakannya padamu karena kau temanku. Karena itu kau harus membantuku,” lanjut Seohyun.

Sungmin mengerjap. Ada sesuatu dalam nada suara Seohyun yang membuatnya heran.

Seohyun menoleh menatapnya sejenak dan tersenyum. “Sungmin-ssi, kau mau membantuku, bukan?”

Oh, dear. Sungmin menarik napas dalam-dalam. Apa yang harus dikatakannya? Ya, ia akan membantu Seohyun walaupun sebenarnya ia tidak ingin melakukannya? Atau tidak, ia tidak akan membantu Seohyun mendekati Kyuhyun? Tetapi kalau Seohyun bertanya kenapa Sungmin tidak mau membantu, apa yang harus dikatakannya?

Bahwa ia sendiri juga…

Sungmin tertegun. Apa? Astaga… Apa yang dipikirkannya tadi? Tidak, itu tidak mungkin. Sungmin memalingkan wajah, memandang kosong ke bawah. Jari-jari tangannya mendadak terasa dingin dan dadanya mendadak terasa nyeri. Apa pun yang saat ini dikiranya sedang dirasakannya sangat tidak mungkin. Sangat tidak mungkin.

“Sungmin-ssi?” Panggilan Seohyun menembus otak Sungmin yang kalut. Sungmin menoleh dan berusaha memasang wajah datar. “Ne?

Seohyun memandangnya dengan tatapan bertanya. “Jadi bagaimana? Kau akan membantuku, bukan?”

Sungmin berharap Seohyun tidak mendesaknya seperti itu. Lagi pula Seohyun bukan wanita pemalu yang membutuhkan bantuan mak comblang untuk menjalin hubungan dengan pria mana pun. Namun karena ia sedang tidak ingin berdebat panjang-lebar, Sungmin memaksakan seulas senyum kecil dan bergumam, “Tentu.”

Senyum Seohyun mengembang. Sungmin kembali memalingkan wajah ke jalanan yang ada di bawahnya dan menghela napas panjang. Apa pun yang saat ini dikiranya sedang dirasakannya sangat tidak mungkin. Sangat tidak mungkin. Karena ia sama sekali tidak boleh lupa siapa Kyuhyun sebenarnya. Harusnya ia tahu akan seperti ini. Seohyun sudah memperlihatkan rasa sukanya pada Kyuhyun sejak saat pertama mereka bertemu. Dan Sungmin, siapa Sungmin? Apakah dia mau mengubur dalam-dalam perasaannya?

oOoOo

 

Sudah sebulan sejak Kyuhyun tiba-tiba menghilang dan Sungmin kehilangan kontak dengan pria itu. Terakhir kali ia bertemu Kyuhyun di lift, lalu mereka pergi untuk urusan kerja, lalu Kyuhyun mengajaknya makan malam untuk yang terakhir waktu itu. Mungkin sebagai salam perpisahan. Dan sejak sebulan itulah ia sudah tidak lagi bekerja pada Kyuhyun dan kembali bekerja sebagai sekretaris Park Jeongsoo. Tapi ia merasa hidupnya semakin buruk. Bukankah seharusnya hidupnya membaik setelah Kyuhyun menghilang?

Sungmin terus berjalan pelan, tidak terasa ia sudah hampir sampai di kantor. Tiba-tiba ponselnya berdering, nyaring, minta diangkat. Dan Sungmin segera merogoh tas tangannya untuk mencari benda itu. Ia tersenyum senang, terlepas sudah kekhawatirannya setelah membaca tulisan yang tertera pada layar ponselnya, Cho Kyuhyun. “Kyuhyun-ssi?” ucapnya setelah hubungan telepon tersambung.

“Lee Sungmin, cepat kemari!” sahut Kyuhyun dari seberang.

“Di mana kau sekarang?”

“Aku di atas. Lihat ke atas.” Jawab Kyuhyun. Sungmin menoleh ke atas. Akhirnya ia bertemu pandang dengan sosok pria yang dicarinya, Cho Kyuhyun. Kyuhyun melambaikan tangan dari atas, di atap gedung kantor itu. Sungmin tersenyum lebar, ia bisa melihat Kyuhyun samar-samar dari depan kantor itu.

“Cepat kemari,” ucap Kyuhyun lagi. Sungmin langsung mematikan hubungan teleponnya dan segera berlari masuk ke dalam kantor.

 

oOoOo

 

Sungmin berlari, ia berhenti tepat di depan Kyuhyun. Napasnya tersengal-sengal, namun ia masih bisa tersenyum. “Kyuhyun-ssi,” panggilnya. Kyuhyun tersenyum tipis. Ia berjalan menghampiri Sungmin lalu memeluk erat gadis itu.

“Kyu…” ucap Sungmin terbata-bata. Tubuhnya bergetar, terasa kaku dalam pelukan Kyuhyun. Tapi ia tidak berusaha menolak. Ia hanya diam dan menyandarkan kepalanya di dada Kyuhyun. Kyuhyun mengusap rambut Sungmin.

Gomawo. Bogoshipposseo” ucap Kyuhyun lirih. Jantung Sungmin seakan berhenti berdetak. “Hya! Ke mana saja kau selama ini? Menghilang begitu saja.” Pekik Sungmin.

“Aku ada di Jepang sejak sebulan yang lalu…” jawab Kyuhyun. “Untuk menghindarimu” lanjutnya. Dada Sungmin seperti tertimpa batu besar. Rasanya sakit. Untuk apa Kyuhyun menghindarinya?

“Tapi aku tidak bisa. Karena ternyata aku merindukanmu.” Lanjutnya lagi. Sungmin terkejut, sekaligus senang. Ia terisak di pelukan Kyuhyun.

“Lee Sungmin, Neomu Johayo.” Ucap Kyuhyun. Sungmin semakin terisak, “Nado, Kyuhyun-ssi.” Balasnya. Kyuhyun tersenyum lebar. Ia mengangkat kepala Sungmin, menelangkup pipi gadis itu dengan kedua tangannya dan menempelkan dahi mereka. Mereka saling bertatapan, “Jadilah pacarku.” Ucap Kyuhyun. Sungmin mengangguk lalu Kyuhyun mencium bibirnya.

Kyuhyun yang selama ini dianggap pria yang sangat egois dan cuek, berbalik menjadi pria yang sangat diinginkannya. Sungmin baru tahu sesuatu, kenapa Kyuhyun selalu mendekatinya, kenapa Kyuhyun bersikap seolah tidak peduli padanya, kenapa Kyuhyun selalu gugup saat mereka berdekatan. Dan itu semua karena ternyata Kyuhyun juga menyukainya.

 

oOoOo

 

Side Story

 

“Kyuhyun-ssi,” gumam Seohyun. “Hmm” Kyuhyun menoleh padanya. Ia bingung saat melihat mata Seohyun berkaca-kaca.

“Aku… menyukaimu.” Ungkap Seohyun tiba-tiba. Gadis itu tersenyum tipis. Kyuhyun mengerjap lalu menggeleng cepat. “Mwo?”

“Ne. Aku menyukaimu. Sangat menyukaimu.” Tegas Seohyun. Kyuhyun diam sebagai reaksi. Lalu Seohyun melanjutkan, “Aku tahu kau menyukai Sungmin. Gwenchana. Aku hanya ingin mengungkapkan perasaanku. Walaupun aku tahu kau tidak akan mungkin dapat kumiliki.”

Ia ingat benar kapan ketika Sungmin dan Kyuhyun bersama. Saat mereka berdua berada di departemen store dan mereka terlihat mesra. Saat Kyuhyun di Ulsan lalu dia menelpon Sungmin, “Aku suka suaramu. Rasanya sangat kehilangan saat aku tidak bisa mendengar suaramu sebentar saja. Tolong katakan apa saja. Sungmin-ssi, aku masih ingin mendengar suaramu.” Kata-kata itu terus terngiang di telinga Seohyun. Hatinya memanas, jantungnya berdebar tak terkontrol. Ia akhirnya memutuskan pergi begitu saja dari tempat yang tadinya digunakan untuk menguping pembicaraan Kyuhyun di telepon.

Lalu Seohyun berbalik meninggalkan Kyuhyun. Tanpa sepengetahuan Kyuhyun, gadis itu menangis.

Kyuhyun diam. Dia tahu dia telah menyakiti Seohyun.

 

 

THE END

 

Ini FF pengganti sebuah FF chapter yg ide-idenya menghilang entah ke mana. Daripada ga baca mendingan baca ini aja ya… ^^ #plakk. FF ini kayaknya terasa ga lengkap, soalnya ada banyak scene yg harus Q relain ga tercantum di sini. Kalo ditulis semua, jadi FF part donk nantinya. Oke, Need RnR… ^^

Iklan
  1. izumi
    28 Agustus 2012 pukul 1:25 pm

    so like this. but why 2 endding(happy & sad)…
    .
    gregetnya kurang….
    dibagian seohyun menyatakan perasaannya pada kyu…
    .
    dan saat meninggalkan kyu…
    .
    .
    .
    i feel so…… in heart when kyu & min kissing..
    .
    I LOVE YOUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUU…….

    TO BE THE BEST…..
    😀

  2. 2 September 2012 pukul 10:16 pm

    Fantastic goods from you, man. I’ve understand your stuff previous to and you are just extremely excellent. I really like what you’ve acquired here, really like what you’re stating and the way in which you say it. You make it entertaining and you still care for to keep it sensible. I can not wait to read much more from you. This is really a great web site.

  3. 4 September 2012 pukul 2:13 pm

    Your method of describing everything in this post is
    in fact nice, all be capable of easily know it, Thanks a lot.

  4. 15 September 2012 pukul 11:56 pm

    Great blog you have here.. It’s difficult to find high quality writing like yours these days. I seriously appreciate individuals like you! Take care!!

  5. 16 September 2012 pukul 7:56 am

    Great article, just what I needed.

  6. hye ri :)
    23 November 2012 pukul 11:45 pm

    apa udah ad yg blg?? ff ini sedikit sangat mirip sma novel spring in london by ilana tan.. tp klimaks akhir sma prolognya beda, dan jga pekerjaan mereka
    hmm, jd.a saya baca ff ini sdkit bosen, ap lg pas kyu sakit, smpe saya skip.. maaf ya
    ffnya bagus kok

  7. 24 Juli 2013 pukul 5:05 am

    Hi my loved one! I want to say that this post is awesome,
    great written and include almost all vital infos.

    I would like to peer more posts like this .

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: